Keluarga yang ideal terdiri dari anggota keluarga, yaitu ayah, ibu, dan anak-anak. Salah satu nikmat Allah adalah Dia mengaruniai anggota keluarga yang lengkap dalam satu rumah. Jika ada salah satu saja, misalnya ayah yang tidak ada, maka kurang lengkap rasanya.


tips komunikasi dengan anak bagi ayah yang sering bepergian


Masing-masing anggota keluarga mempunyai peran, hak, dan kewajiban masing-masing. Tidak adanya peran ayah dapat dibilang sebagai titik awal runtuhnya kehidupan keluarga, karena ayah merupakan salah satu faktor penting dibalik sederetan penyimpangan kaum muda dan anak-anak.

Tidak semuanya memang, bahkan ada keluarga yang tidak ada ayah namun menghasilkan anak-anak yang shalih dan berprestasi. Tentu untuk mencapai hal itu, diperlukan adanya usaha dan pengorbanan besar dari sang ibu agar bisa menjalankan peran ayah sekaligus ibu.

Diantara tugas-tugas ayah dalam keluarga:


- Mendidik anak, merawat anak, dan menjadi teladan bagi anak.

- Mendorong anak menggunakan waktu luang untuk hal-hal yang bermanfaat. Waktu luang yang tidak dimanfaatkan dengan baik bisa merusak dan mendorong anak berbuat menyimpang.

- Tidak membeda- bedakan anak dalam hal perlakuan.

- Bersikap terus terang dan jujur, dan melatih mereka untuk memperlakukan ayah mereka dengan cara yang sama.

- Menyeimbangkan diri dengan tingkatan anak, bercanda layaknya teman bagi anak, dan kadang juga tegas dalam rangka mendidik anak.

- Mendorong semangat kreativitas, tidak menyepelekan pikiran dan ide anak.

- Melatih anak untuk bersikap mandiri, ulet, dan tahan banting agar anak-anak tumbuh sebagai insan yang pemberani, tegar, dan berkeinginan kuat.

Salah satu dampak ketiadaan ayah di rumah


Sejumlah penelitian dilakukan seputar peran tunggal seorang ibu dalam merawat anak sendirian.

Hasil penelitiannya antara lain:

- Memicu kepribadian anak secara negatif karena tidak adanya keseimbangan, misalnya sifat kekanak-kanakan, cenderung bergantung pada orang lain.

- Anak-anak yang berasal dari keluarga normal (adanya ayah-ibu) memiliki kemampuan lebih baik untuk membaca, menulis, berhitung daripada anak yang mempunyai orang-tua tunggal (tanpa ayah), sebab ibu memikul banyak sekali beban dan tanggung jawab seperti mendidik anak, merawat anak, mencari nafkah, dst.

- Memiliki kesulitan-kesulitan terkait sikap pribadi , konsep diri, membangun hubungan baru, dan ketegangan tingkat tinggi.


Sekarang anda telah mengetahui beberapa dampak jika ayah tidak ikut terjun langsung bercengkrama, bergaul, mendidik, dan merawat anak.

Sekarang persoalannya adalah ada banyak ayah yang karena tuntutan kantor atau bisnis, ia seringkali bepergian ke luar kota bahkan ke luar negeri dari yang waktunya sebentar hingga waktunya berminggu-minggu.

Tentu saja ada perasaan dilematis antara pekerjaan/bisnis atau mendidik/mengurus/merawat anak.


Di bawah ini ada sejumlah tips bagi ayah yang sering bepergian agar masih dapat mendidik anak.


1. Tinggalkan pesan dalam sebuah surat untuk anak sebelum sang ayah berangkat, yang bisa mereka baca ketika sang ayah pergi.

Contoh pesan surat itu adalah:

a. Arahan atau nasehat ayah kepada anaknya.
b. Alasan kenapa anda harus safar/bepergian.
c. Apa yang harus anak lakukan ketika sang ayah tidak di rumah, seperti: shalat lima waktu, menuruti kata/nasehat ibu, belajar, dll.

2. Bacakan kisah-kisah nyata penggugah jiwa kepada mereka.

Kisah-kisah tersebut bisa anda rekam ke CD, flash disk sehingga dapat diputar di komputer. Atau dapat juga diupload ke internet sehingga anak-anak bisa mendengarkannya via gadget sang ibu.

Contohnya adalah seperti ini:




3. Biarkan anak menebak tempat yang ayah kunjungi, beritahukan kepada mereka tentang tempat tersebut, seperti letaknya pada peta, keadaan masyarakatnya, keadaan alamnya, cuacanya, dst. Saat pulang jangan lupa memberikan mereka oleh-oleh sesuatu yang khas dari daerah tersebut, misalnya cenderamata, makanan, dan lainnya.

4. Mintalah anak untuk menulis semua peristiwa yang terjadi, apa yang anak rasakan, pelajaran apa yang telah anak dapat saat sang ayah safar atau bepergian. Baca pesan itu, dan diskusikan dengan anak ketika sang ayah telah pulang.

5. Tetap menjaga komunikasi dengan anggota keluarga yang di rumah terutama anak-anak.

Contoh hal-hal yang ditanya ketika komunikasi jarak jauh (baik via telephone, skype, whatsapp, dll):

a. Sudah shalat atau belum?
b. Sudah berapa ayat tambah hafalannya?
c. Kesulitan apa saja yang ditemui di rumah, di sekolah, dll.
d. Pengalaman apa saja yang paling berkesan di rumah, di sekolah, dll.

6. Saat pulang ke rumah, sediakan waktu khusus untuk berkomunikasi bersama anak, khususnya hal-hal yang ditemui dan akan ditanyakan/didiskusikan sewaktu sang ayah tidak di rumah.

Tips di atas dapat anda praktekkan secara konsisten bagi anda sang ayah yang "terpaksa" harus pergi ke luar kota atau ke luar negeri dalam rangka dinas dari perusahaan tempat bekerja atau dalam rangka urusan bisnis/usahanya.

Bagi Anda yang harus bepergian karena tuntutan kerja atau bisnis dalam rangka mencari nafkah untuk keluarga, semoga tetap dapat berkomunikasi dan mendidik anak-anak sehingga melahirkan generasi rabbani kelak.

Sebagai pelengkap informasi agar mendapat wawasan yang komprehensif, baca juga tulisan di bawah ini:


1. Konsep Pendidikan Anak Dalam Islam
2. Metode komunikasi yang efektif kepada anak untuk membangun kecerdasan emosional
3. Kisah Nyata: Doa Ayah untuk anak 
4. Waktu yang tepat untuk berinteraksi dengan anak 


Sumber tulisan:
Buku Jejak Ulama menembus rintangan
Dr. Jasim Muhammad Badr
Penerbit Multazam
Hal. 55-59

0 comments:

Post a Comment