Wirausahawan atau entrepreneur adalah kata yang sedang populer di ranah pemberitaan Indonesia.

Kata seorang expert (saya lupa namanya) bahwa jika populasi pengusaha di suatu negara minimal 2% dari jumlah penduduk maka negara itu dapat dikatakan atau dapat menjadi negara maju. Rata-rata negara maju populasi pengusaha adalah 7%-10% dari total jumlah penduduk.

Bagaimana dengan Indonesia? Sementara Indonesia populasi pengusaha kurang dari 2% dari total jumlah penduduk. Oleh karena itu, sekarang banyak diseminarkan atau digalakkan agar minimal satu orang dari anggota keluarga menjadi pengusaha.

Saya mengamati bahwa banyak sekolah Pra Dasar (TK) dan sekolah dasar sudah ada aktivitas untuk menanamkan sikap entrepreneurship sedari dini. Seperti mengadakan kegiatan:

- Membuat craft dan menjualnya dalam acara “Market day”

- Membuat kue dan minuman ringan dan menjualnya dalam acara seperti acara di atas yang melibatkan orang-tua yang akan bertindak sebagai pembeli dan sang anak sebagai penjual.

- Dan seterusnya.

Bagaimana cara mengenalkan dunia wirausaha pada anak


Banyak cara bagaimana mengenalkan dunia wirausaha pada anak-anak. Tersedia puluhan buku-buku tentang mengajari anak berwirausaha di toko buku. Ada juga seminar-seminar dari para praktisi membahas menanamkan sikap entrepreneurship pada anak.

Dari berbagai masukan informasi yang berlimpah di atas, maka saya mengambil benang merahnya yaitu: cara mengenalkannya adalah dengan menanamkan mindset kewirausahaan dan melibatkan mereka langsung pada aktivitas wirausaha.

Menanamkan mindset kepada anak-anak sangat diperlukan agar fondasi berfikirnya kuat. Setelah itu melibatkan mereka langsung tujuannya adalah sebagai pembiasaan perilaku sehingga ketika sudah terbiasa akan menjadi karakter.

Ada pertanyaan lanjutan:

Kalau saya bekerja di kantoran, apakah bisa mengajarkan berbisnis kepada anak? Soalnya pendidikan itu kan perlu contoh, dan yang menjadi contohnya adalah saya yang pekerja.

Jawab: sangat bisa. Jangan dibayangkan berbisnis itu memerlukan sebuah kantor khusus dan punya karyawan. Kita bisa melakukan wirausaha dimulai dari yang kecil sekalipun.

Dan ini yang harus dicatat untuk ayah bunda. Sesuai dengan judulnya yaitu mengenalkan bukan untuk menyuruh anak-anak kita berbisnis. Sebab ada teman saya bilang, buat apa nyuruh anak-anak dagang? Kan kewajiban mereka sekolah dan belajar.

Jawab: sangat betul sekali. Kewajiban mencari nafkah ditujukan pada ayah. Dan kegiatan melibatkan langsung mereka dalam berwirausaha adalah bukan menyuruh mereka mencari nafkah dan mendapatkan uang. Bukan, akan tetapi agar mengenalkan bagaimana proses berwirausaha itu.

Contoh aktivitas untuk melibatkan anak-anak dalam proses wirausaha


Alhamdulillah kami mempunyai usaha yaitu memproduksi baju muslim dan baju renang muslim untuk anak-anak. Kami mencoba untuk mengajarkan salah satu dari proses pembuatan baju, yaitu membuat kancing.

Anak-anak mencoba membuatnya.

Di bawah ini adalah dokumentasi aktivitas membuat kancing untuk baju.

mengenalkan anak kegiatan wirausaha
Mengumpulkan bahan-bahan

aktivitas wirausaha membuat kancing baju bersama anak
Aktivitas membuat kancing baju bersama anak

contoh kegiatan membuat kancing baju menumbuhkan entrepreneurship pada anak
contoh kancing yang sudah jadi


Oleh karena contoh kasusnya adalah busana muslim. Maka kami menjelaskan proses dari hulu ke hilir dari usaha pembuatan busana muslim ini. Penjelasannya juga tidak terlalu detail, hanya garis besarnya saja.

Ini adalah penjelasan kepada anak-anak kami tentang proses usaha busana muslim


1. Pertama kali yang harus dilakukan adalah membeli bahan-bahan untuk keperluan produksi, seperti: bahan kain, bahan kancing, resleting, benang, dan lain lain. Untuk tahap ini, kita menghitung jumlah uang yang kita keluarkan. Ini namanya modal.

Sengaja kami tidak menyebutkan pengeluaran lain seperti: pengeluaran untuk listrik yang dipakai untuk mesin jahit, upah penjahit, dan lain lain. Namanya juga penjelasan secara global karena ini ditujukan untuk anak-anak. Hehehe..

2. Dimulailah proses pembuatan busana muslimnya. Pertama dari pola, menggunting bahan kain berdasarkan pola, membuat kancing bahannya, menjahit semuanya, dan finishingnya.

3. Lalu dihitung berapa jumlah baju yang didapat. Kita dapat menghitung harga jual kepada pembeli secara garis besar adalah sebagai berikut: jumlah modal yang kita keluarkan dibagi dengan jumlah baju yang telah selesai dibuat. Didapatlah hasilnya sebesar x rupiah.

Kita tentukan mau dapat untung berapa, misalnya kita ingin mendapat untung sebesar y rupiah. Sehingga harga jual adalah x rupiah ditambah y rupiah. Atau dalam bentuk persamaan matematikanya adalah:

Z = x + y

Z = harga jual

x= modal

y = keuntungan

Catatan:

Ayah bunda sudah pasti tahu bahwa pricing ini di dunia nyata lebih kompleks hitungannya. Pricing berdasarkan psikologis pasar juga harus diperhatikan. Namun sekali lagi, ini hanya penjelasan garis besar untuk anak-anak. Agar mereka mengerti dan bersemangat untuk melakukan kegiatan ini.

4. Setelah itu, kita melakukan proses marketing agar didapat penjualan. Kami tunjukkan juga channel-channel penjualan, seperti: website atau blog, tawaran via email, iklan, daftar di marketplace seperti tokopedia.com, atau menawarkan langsung ke teman-teman, saudara, atau tetangga.

5. Penjualan yang didapat kita kumpulkan. Jumlahnya kita hitung. Jumlah total itu namanya gross penjualan.

6. Dari gross itu, kita keluarkan lagi buat modal untuk membuat busana muslim selanjutnya. Dan sisanya itu adalah net (atau keuntungan). Net itulah yang harus kita tabung.

Begitu seterusnya. Jumlah uang dalam tabungan kita, dapat kita gunakan untuk keperluan seperti: keperluan keluarga (beli makanan, bayar uang sekolah, dan lain lain), membantu kerabat yang memerlukan bantuan, umrah dan haji, kalau sudah memenuhi syarat (jumlah dan waktunya) untuk membayar zakat maal, dan lain sebagainya.

Itulah penjelasan secara umum kepada anak bagaimana proses berwirausaha. Sekali lagi, hitungan-hitungan di atas sebaiknya jangan terlalu detail dan kompleks (hanya yang umum saja) kecuali jika mereka sudah belajar akutansi nanti di SMA.

Pendidikan untuk mengenalkan aktivitas wirausaha tidak hanya berhenti disitu saja. Ada pendidikan karakter lain agar anak menjadi entrepreneur sejati.

Ada karakter yang menunjang dan perlu dimiliki oleh seorang pengusaha. Oleh karena itu, ayah bunda juga harus menanamkan karakter positif lainnya juga.

Karakter lain yang juga harus ditanamkan seperti: jujur, berani, bertanggung-jawab, kreatif, mampu beradaptasi, mandiri, dan lain lain.

Pelajaran yang dapat diambil dari aktivitas pengenalan wirausaha ini adalah:


1. Mengenalkan mindset yang benar kepada anak dan membiasakannya.

2. Anak-anak menjadi tahu kegiatan dan proses untuk mendapatkan uang. Kegiatan ini memerlukan proses dan harus dilakukan dengan sabar dalam menjalaninya. Anak-anak menjadi sadar dan melek finansial sehingga diharapkan mereka dapat berhemat dan tidak asal jajan sembarangan.

3. Membudayakan untuk menikmati proses dan menjauhkan diri dari budaya instant.

4. Membumikan pelajaran matematika di keseharian dengan menghitung hitungan dasar seperti menghitung modal, keuntungan, harga jual, dan sebagainya.

5. Mengajarkan tujuan akhir kepada anak-anak, bahwa kegiatan untuk mencari nafkah ini tidak hanya untuk mengumpulkan uang semata namun sebagai sarana ibadah yaitu: menghidupi diri sendiri dan tidak menjadi peminta-minta, agar dapat bersedekah dan zakat maal, agar dapat beribadah yang memerlukan sarana uang seperti haji dan umrah, dan lain sebagainya.

Mudah-mudahan dokumentasi ini menjadi inspirasi untuk ayah bunda agar dapat melakukan aktivitas mengenalkan anak untuk berwirausaha.

Kami akui kegiatan dan dokumentasi ini jauh dari kesempurnaan, jika ada yang salah kami mohon maaf. Kami sangat senang jika ada saran yang membangun untuk ini. Terima kasih telah membaca dokumentasi kami.

0 comments:

Post a Comment